Recommended betting platform_Betting software_Betting Handicap_Betting website platform

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform

Saya sering membayangkan tentang keluarga kecil kita nantinya. Ada saya, kamu, dan dua malaikat kecil yang dititipkan Tuhan pada kita. Meski sibuk dengan urusan pekerjaan, kamu selalu berusaha pulang tepat waktu. Buru-buru menuju rumah demi segera memeluk istri dan kedua anakmu. Walaupun kita sedang berselisih paham, kamu selalu berhasil meredam amarah dan memberi saya pelukan sebagai tanda perdamaian.

“Sekali lagi, sebelum menulis ini saya sudah berpikir masak-masak. Denganmu, saya putuskan untuk berhenti berharap. Tolong doakan saja, semoga saya kuat…”

Namun, kamu akhirnya datang dan membolak-balikkan hidup saya. Kehadiranmu membuat saya percaya, kalau cinta bisa membuat hidup terasa jauh lebih bahagia. Pendampinganmu meyakinkan saya, bahwa masa depan akan lebih indah jika dijalani berdua.

Kamu bukan lagi kebahagiaan dalam hidup saya, tapi kehadiranmu jelas jadi pelajaran paling berharga. Pertengkaran demi pertengkaran denganmu membuat saya sadar siapa diri saya sebenarnya. Kegagalan hubungan kita menjadikan saya mengerti tentang apa yang sebenar-benarnya saya inginkan.

Sekian lama bertahan, tapi kini saya sudah benar-benar sadar. Mungkin kita pernah sama-sama berjuang, tapi di titik ini saya harus berhadapan dengan dua pilihan. Bersamamu adalah sebuah kebimbangan, antara harus diakhiri atau justru dilanjutkan.

Saya harus kembali pada prinsip saya sebelumnya, bahwa perkara pendamping di masa depan biarlah jadi urusan Tuhan. Saya hanya akan berdoa, berharap yang terbaik sambil memacak diri dulu saja. Jika sudah waktunya, dia yang terbaik akan datang dengan sendirinya. Dan segala sesuatunya akan berjalan mulus tanpa kita harus terlalu keras mengusahakannya.

Entah orang-orang menganggap saya apa, mungkin alien atau semacamnya. Di antara teman-teman sepermainan, sayalah yang paling minim pengalaman. Jika teman-teman saling bercerita soal mantan, saya hanya akan diam mendengarkan. Sudah lewat seperempat abad, belum juga saya izinkan seseorang untuk masuk dalam kehidupan saya.

keyakinan membuat saya menggantungkan banyak harapan via dylandsara.com

Mungkin, saya memang masih minim pengalaman dalam membina hubungan. Saya sadar, ada kalanya diri saya terlalu egois hingga memaksakan sesuatu yang sebenarnya tak kamu inginkan. Beberapa kali pula saya pernah membuatmu kesal lantaran sikap saya yang kadang kekanak-kanakan.

Jika boleh jujur, saya sering merasa jadi yang paling bahagia di dunia. Punya pasangan yang selalu bisa diandalkan membuat saya mantap menatap masa depan. Kamu dan saya sudah demikian cocoknya, pasti lebih mudah bagi kita untuk bertahan dan menua bersama.

Ternyata memang bukan kamu, Sayang. Di titik ini saya harus ikhlas merelakan. Mulai detik ini saya harus berhenti menumpuk harapan. Saya dan kamu punya impian yang berbeda tentang masa depan. Perbedaan itu pula yang memaksa kita untuk masing-masing berubah haluan.

“Ah, banyak hal yang ingin saya wujudkan bersamamu. Banyak harapan yang saya titipkan di pundakmu…”

Dan kamu, kamu adalah penyebab perubahan terbesar dalam hidup saya. Bersamamu, saya lebih menikmati hidup hingga setiap menit dan detiknya. Kamulah yang membuat saya merasakan betapa bahagianya dicintai, disayangi, atau diperhatikan. Kamu pula yang membuat saya percaya bahwa tempat paling nyaman memang bahu orang yang paling disayang.

Sebelum kamu datang, cinta dan segala remeh temeh soal perasaan tak pernah membuat saya penasaran. Lebih baik fokus soal kuliah atau pekerjaan, toh perkara menikah juga belum saatnya dipikirkan.