World Bookmaker Ranking_Online Baccarat Sports_888 Live Casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform

IndonesiIndonesia Lottery Loopholesa Lottery LoopholessIndonesia Lottery Loopholesaat ibu hamil menangis karena banyaknya tekanan, tubuh akan melepaskan hormon CRH yang bisa memicu peningkatan homron kortisol yang masuk melalui plasenta. Jika ini berlangsung lama, kadar hormon akan bertambah di cairan ketuban. Jika kadarnya tinggi akan mempercepat organ janin untuk tumbuh padahal belum sesuai dengan kondisinya. Akibatnya organ-organ yang tumbuh dengan cepat ini belum tentu terbentuk sempurna. Nah, akhirnya dikhawatirkan berisiko membuat bayi lahir prematur.

Sebuah penelitian dari Assocoiation for Psychological Science menemukan bahwa janin yang berumur enam bulan bisa merasakan dampak dari emosi yang dirasakan Moms saat hamil. Maka dari itu menjaga kestabilan emosi saat kehamilan perlu diperhatikan. Nah berikut ini Hipwee merangkum dampak bagi janin jika ibu sering menangis yang tak boleh diabaikan. Yuk, simak ulasannya!

Selama kehamilan, seorang wanita mengalami perubahan dalam dirinya baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, Moms jadi lebih sensitif karena suasana hati yang mudah berubah. Merasa bahagia, takut, sedih menjadi hal wajar yang sering ditemukan. Sebenarnya beberapa stress selama kehamilan itu normal, namun jika frekuensinya konstan dan berlangsung lama justru nggak baik bagi ibu hamil dan juga janin yang dikandung.

Ciptakan suasana bahagia | Credit: Kelly Sikkema via unsplash.com

Menangis karena mengungkapkan rasa sedih itu wajar dan boleh saja, Moms. Tapi ingat, Moms harus pandai-pandai mengatur emosi supaya adik bayi di dalam kandungan juga merasakan ketenangan. Untuk Dads juga wajib menjaga mood Moms, ya!

Stres yang berkepanjangan saat hamil  juga dapat meningkatkan risiko depresi, autisme, dan gangguan kognitif. Ketika Moms menangis pertumbuhan janin juga bisa berdampak perkembangan yang kurang optimal pada bayi. Untuk itu, Moms harus berpikir positif selama hamil ya, termasuk keluarga yang selalu menciptakan suasana yang nyaman dan bahagia. Jangan sampai karena terlalu banyak menangis karena stres, bayi yang ada di kandungan justru terganggu perkembangannya.

Dampak Moms yang terus menangis selanjutnya, yakni mampu menurunkan suplai oksigen ke janin. Ini disebabkan saat menangis karena stres dan depresi, maka pembuluh darah akan berkaitan dengan kuat yang menyebabkan produksi hormon Norepinephrine meningkat. Jika seperti ini, sirkulasi oksigen ke janin pun akan berkurang. Salah satu risikonya ialah menyebabkan cerebral palsy, yaitu kondisi saat anak lahir mengalami masalah keterampilan motorik, keseimbangan dan keterlembatan perkembangan.

Mengutip dari hellosehatMoms yang alami depresi akan mengalami beberapa gejala yang berisiko langsung pada kesehatan bayi. Misalnya kesulitan tidur, nafsu makan menurun, kurang konsentrasi dan merasa lemas karena kehabisan energi untuk menangis.

Hormon stres bisa menyebabkan gangguan kecemasan pada ibu hamil. Hormon ini akan mengalir pada janin melalui plasenta. Janin yang terus menerus mendapatkan hormon stres bisa mengalami stres kronis. Padahal perkembangan di dalam rahim adalah masa yang sangat penting sebab sistem saraf tengah terbentuk. Hormon yang tak seimbang bisa menggangu proses ini.

Ketika ibu sering menangis maka keadaan fisik akan semakin melemah yang berdampak bagi kesehatan janin. Risiko keguguran pun semakin besar karena masalah yang satu ini. Beberapa kasus kurangnya suplai oksigen ke janin mampu menyebabkan kelahiran mati (stillbirth) setelah usia kehamilan 20 minggu. Diketahui sekitar seperempat kelahiran janin meninggal disebabkan masalah plasenta yang memengaruhi jumlah oksigen mencapai janin.